blog edit

Minggu, 25 November 2018

Zaman ke Zaman Bioskop Kisaran



Zaman millennial saat ini, bioskop bagi masyarakat di kota Kisaran, Kabupaten Asahan masih menjadi  hiburan ‘barang’ baru. Kendati demikian, tak bisa dipungkiri anak muda kota Kisaran di masa dulu sempat menikmati kejayaan bioskop pada sekitar awal tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990 - an. 

Sebut saja tiga nama bioskop familiar yang sampai hari ini bekas bangunannya masih beridiri tegak di jantung kota Kisaran, ada Varia, Jaya dan Ria. Ke tiga lokasi ini kerap menjadi tujuan kaula muda saat itu, tergantung kitanya punya duit berapa untuk membayar tiket menonton. 



Varia kini masih berdiri kokoh di Jalan Rivai, Keluaran Kisaran Kota. Bangunan aslinya masih tetap dibiarkan utuh meski dipelataran ex bioskop itu kini beralih fugsi jadi latar pedagang kaki lima. Bekas bangunannya masih utuh. Menengok kondisi dari celah pagar tuanya, seakan tempat ini masih bisa memutar kembali ingatan ketika masa jayanya.

Varia bisa dibilang bioskop yang paling berkelas di kota ini. Memiliki tiga studio, saat itu menjadi satu satunya tempat nonton yang dilengkapi fasilitas AC. Mewah. Kalau mau menikmati suhu ruangan ber-AC agar dibilang ‘pernah’ maka anak muda saat itu pergi- nonton ke Varia. 

“Tergantung kalau kau punya duit berapa saat itu kita mau nonton. Yang jelas untuk di Kisaran ini, bioskop yang berkelas itu di Varia karena studionya ada tiga dilengkapi AC. Kalau duit pas pasan tapi tetap mau nonton datang lah ke Jaya atau Ria,” kata Ismanto warga kota Kisaran mengingat kejayaan fasilitas bioskop saat itu.   

Berbeda dengan Varia. Nasib bioskop Jaya agak sedikit lebih terawat tapi keberadaannya sekarang berubah fungsi. Dari sisi luar gedung kelihatan lebih lebih terlihat rapi. Sekarang bangunan yang berlokasi di Jalan Diponegoro (ujung) ini sudah berpagar beton. Bangunan ini dikomersilkan oleh pemiliknya sebagai gudang logistik barang.

Konon, Bioskop Jaya dikenal sebagai tempat tontonan film yang paling idialis karena memutar film film Nasional ketimbang asing. Tiket masuknya juga ramah dikantong. Jadi primadona masyarakat ekonomi bawah.

Sedangkan Cahaya, kondisi bangunannya kini nyaris tak berbekas. Letaknya di Jalan Sisingamangaraja, bangunan ini sekarang sudah berubah bentuk menjadi rumah sakit swasta Setio Husodo. 

Cahaya Theater atau bioskop Star ini dikenal sebagai tempat nonton paling ‘mesum’ di kota Kisaran. Di tempat ini pernah terjadi aksi pembakaran gerakan spontanitas masyarakat sekitar tahun 1993. Tepatnya di bulan Ramadhan, masyarakat yang geram usai shalat tarawih masa ramai ramai melakukan pembakaran dan pengrusakan terhadap bangunan gedung bioskop.


Star kemudian sempat ditutup sementara oleh pengelolanya dan berubah nama menjadi Cahaya Teather. Namun berubahnya nama menjadi Cahaya masih tetap dengan gaya sajian film ‘mesum’ nya. Tak lama bioskop ini ditutup oleh aparat pemerintah setempat.

Dipenghujung tahun 1990 – an industry  bioskop memiliki tantangan yang berat setelah lahirnya Video Compact Disc (VCD). Pembajakan film marak terjadi. Pelaku hiburan bioskop saat itu undur diri.

***

Sekarang bioskop udah ada di (Kisaran). Keberadaannya sekarang tak hanya dinikmati oleh pecinta cinema yang hobi nonton di akhir pekan. Untuk penonton garis keras, bioskop merupakan ruang apresiasi bagi pelaku industri film. Bagi generasi millennial, ini spot kencan yang harus dikunjungi jika berkocek tebal. Hehe..

Jumat, 10 Agustus 2018

Proklamasikan Koran Sebagai ‘Jurnalistik Kasta Tertinggi’



Mendapatkan sebuah informasi di zaman milenial saat ini sangatlah mudah. Semudah bernafas, asalkan masih punya akses, dalam genggaman tangan kapan dan dimana saja informasi dengan lalulintasnya yang luar biasa mudah didapat. 

Dalam satu kesempatan materi pembekalan wartawan yang saya ikuti,  Ilham Bintang , Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat yang juga pimpinan redaksi majalah cek n ricek menyebutkan ;  Saat ini tantangan pekerja media (jurnalis) adalah dominasi informasi sosial media yang rata rata mendahulukan kecepatan dibanding ketepatan.

Dok. Foto bersama Dahlan Iskan, Pembukaan Hari Pers Nasional di Padang Convention Centre, Sumbar //


Di zaman now, banyak penggiat sosial media dengan mudahnya beropini tanpa bersandar pada data. Kemudian informasi itu mudah tersebar dengan cara berantai melalui smartphone di sosial media, jadilah dia konsumsi informasi publik. Menulis tidak bersandarkan data.

Disinilah letak tantangan pelaku profesi jurnalistik, diantaranya (kami) banyak yang tak terlalu memikirkan sense of urgency.

***

Dalam satu kesempatan pertemuan ‘ diskusi model bisnis media cetak’ yang digelar oleh Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Jakarta, (8/8/2018) mantan CEO Jawa Pos Group, Dahlan Iskan mengatakan ; koran jika ingin terus hidup harus berani proklamasikan diri sebagai jurnalistik kasta tertinggi.

Penyebabnya, saat ini banyak koran mulai ditinggal para pembaca karena maraknya media digital terbit.  
Rencana memproklamasikan koran sebagai jurnalistik kasta tertinggi bukan persoalan mudah. Ini persoalan bagaimana menjadikan sumberdaya  pers dengan karya jurnalistik cetak yang enak dikonsumsi pembaca, sehingga kental menjadi pembeda antara bacaan koran dan media digital lainnya.

Di Amerika, orang orang yang ingin mendapatakan informasi harus beli dan baca koran. Karena banyaknya media digital menjual konten hoaks dilinimasa. Time York Time hidup dari kualitas konten mereka yang bagus. Tak pernah ditinggalkan pembacanya.

***

Sebuah pemberitaan media digital, diberitakan terjadi kecelakaan yang  dalam peristiwa itu korbannya mengalami putus tangan sebelah kanan. Tiga jam kemudian segera diralat berganti jadi sebelah kiri. 
Kesalahan tersebut bagi penulis yang memegang teguh prinsip akan membuat dia merasa paling bodoh dan kesalnya setengah mati. Dia akan merasa bersalah.  (**)

Senin, 30 Oktober 2017

Dari Asahan ke Barca / Vini Vidi Vici !

Publik sepakbola di Kabupaten Asahan saat ini sedang panas - panasnya. Bagaimana tidak dalam tempo kurang dari satu minggu, dua gelar runner up diboyong sekaligus ke tanah Rambate Rata Raya. Satu dari kompetisi "lawas" level muda bertajuk Suratin Cup U-18, satunya lagi didapat dari Barcelona Cup U-15 nun jauh dari negerinya Lionel Messi. Meski sama sama berstatus juara dua, keganggaan itu tetap patut disandang dengan dada tegak.

Foto: Anak - anak Asahan berselebrasi di Barcelona Football Cup tampil sebagai runner up.

Dua turnament sepakbola tersebut sukses dilakoni PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH ASAHAN (PSSA) usia muda berkat dukungan all out para pejuang olahraga si kulit bundar di Asahan baik dari depan atau belakang layar, dari dalam maupun luar lapangan, langsung maupun tidak langsung. Semua dukungan tulus, demi kemajuan per- sebakbolaan di Asahan.

Sabtu, (28/10/2017) final Suratin Cup mempertemukan antara PSSA U18 yang mewakili (SUMUT) VS JAWA BARAT U-18 disiarkan live di televisi dari stadion Manguwoharjo, Sleman DIY. Ditengah pertandingan si komentator sempat menjelaskan (mungkin sebelumnya buka gugel) dari mana tim PSSA ini berasal. Kemudian si komentator menjelaskan sendiri, tim berbaju hijau itu datang dari daerah yang secara geografis didominasi wilayah perkebunan bernama Kabupaten Asahan di Sumatera Utara jaraknya sekitar empat jam jika menempuh perjalanan darat dari kota Medan.

Sikomentator juga bilang, selama ini daerah tersebut (Asahan) melahirkan banyak atlit sepakbola berbakat di PSMS Medan dimasanya, misalnya Abdurahman Gurning, Edu Juanda sampai penyerang aktif PSMS saat ini, Willyando.

Pra pertandingan Final sosial media ramai membincangkan PSSA Asahan ini. Saat mengikuti nonton bareng di salah satu bilangan warung kopi di kota Kisaran, seorang penikmat bola tiba tiba nyeletuk. "PSSA ini lama tak kedengaran tiba tiba main di tipi aja, Bintang Jaya apa kabarnya?".

Tahun 2016 lalu Asahan boleh jadi sedang menapaki puncak masa kegemilangan sepakbolanya yang berlaga di kasta kedua Indonesia (liga 2). Adalah kesebelasan Bintang Jaya (BJ) mampu menjadi warna dan permainannya diperhitungkan oleh tim - tim yang terlebih dulu punya nama besar sekaliber dengan PSMS Medan, PSPS Riau Pekanbaru, sampai Persiraja Banda Aceh. Bahkan saat itu PSSA Asahan, tim yang lebih dahulu sudah ada dan bermarkas di stadion Mutiara ini namanya hampir tak terdengar. Namun kondisi itu tak bertahan lama, tim berjuluk "Laskar Kijang Gunung" yang dimodali penuh oleh seorang penggila bola, pengusaha sekaligus pejabat di kota Kisaran ini redup karena faktor "X". Tim ini kemudian berganti owner pindah home base ke kota Batam di Kepulauan Riau pada musim 2017 tetap bermain di Liga 2 dengan nama baru 757 Kepri Jaya. 

Dokumentasi penampilan PS Bintang Jaya Asahan saat berlaga di Indonesia Soccer Championship (ISC - B) tahun 2016 di Stadion Mutiara Kisaran.
 
Sepakbola bisa dikatakan punya tempat khusus di Asahan karna terdapat masih memiliki orang - orang yang loyalitas mati dan cinta pada dunia gila bola. Selepas BJ, pelan tapi pasti PSSA Asahan naik kepermukaan melalui prestasi atlit usia mudanya.  U-18 meski kalah di partai final Suratin Cup 2017 dari Jawa Barat 1-4.

Senin (30/10/2017) jagat maya di Asahan dihebohkan dengan "penampakan" tim PSSA U-15 di Barcelona Spanyol. Mereka menempati posisi Runner Up pada kompetisi Barcelona Cup usai dikalahkan Soccers tim asal Inggris 0 - 2. Penampakan memang, karena keberangkatan tim yang merupakan utusan undangan dari Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLISPI) diketahui oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga dalam rangka pengembangan sepakbola Indonesia usia muda, nyaris tak diketahui oleh peliput media lokal. Ujug-ujug menang, juara dua pula bersaing dengan tim tim eropa yang terapan ilmu sepakbolanya jauh di atas Indonesia. Sesuatu, ... karna keikutseraan tim menuju Spanyol mendapat talangan sponsor penuh dari Pemkab Asahan dibayar mahal pula dengan raihan juara dua tadi. standing aplause...

Dikisahkan, perjalanan tim PSSA U-15 yang membawa nama Garuda Jaya Indonesia mengikuti kompetisi memang tak mudah. Dalam siaran pers rilis resmi melalui pesan aplikasi watshap group yang diterima  PSSA dibabak penyisihan group A keluar sebagai juara setelah mengalahkan tim tuan rumah Bafala Spanyol 1 – 0, ditahan imbang tim Newbridge Town 1 -1 dari Irlandia, dan mengalahkan tim Fortuna dari Swedia dengan skor telak 3 – 0. Bagaimanapun perjalanan mereka ke Spanyol menyisakan cerita bangga lewat prestasi tadi. Dari Asahan, merah putih berkibar disana.

Menariknya, jelang kepulangan sang juara dua dari Barcelona ini ditunggu banyak orang. Sebab dari belakang gawang tribune selatan sudah terdengar chant - chant yang mempertanyakan anggaran perjalanan fantastis ke kandangnya Lionel Messi dengan sponsor penganggaran dari APBD yang tak murah itu. "uhuuk..."

Bagaimanapun para bocah yang berangkat ke Barcelona juga masyarakatnya Kabupaten Asahan. Kebetulan saja anak anak itu punya kemampuan bakat sepakbola yang lumayan, tak ada salahnya menjajal tim eropa yang terapan ilmu sepakbolanya sudah modern. Siapa tahu anak anak Rambate Rata Raya ini ditahun mendatang membawa mimpi jutaan masyarakat Indonesia mengibarkan merah putih di Piala Dunia tahun dua ribu sekian. Siapa tahu ??? 

#ProudOfYou.

Penulis : Perdana Ramadhan. //

Rabu, 20 September 2017

Wartawan Satu Ginjal



Ini hari kedua. Pagi ini cuaca Medan sedang hujan. Dari dalam ruang berukuran seperempat lapangan sepakbola enam unit pendingin ruangan berdiri tegak menghembuskan udara sejuk. Dinginnya itu sampai membantai persendian tulang. Sialnya posisi dudukku persis dibawah mesin pendingin raksasa itu. Maka jadilah aku, seperti ayam sayur kedinginan berteduh dibawah pohon. 




Tapi, tentu saja itu bukan menjadi alasan penciut semangat ku jadi kendor untuk ikut tahapan ujian kompetensi yang akan dimulai tepat pukul 08:00 WIB. Ku pandang satu satu wajah beberapa orang reaksinya sama. Sama sama menjepit tangan diantara ketiak.

Sejurus kemudian, seorang pria berjalan pelan menuju salah satu meja bundar. Delapan kursi yang tersedia hanya tiga yang berpenghuni. Beliau adalah Widodo Asmowitoyo, mantan pimpinan redaksi surat kabar Pikiran Rakyat. Sampai hari ini media tersebut masih pemegang oplah terbesar di Jawa Barat dan sekitarnya. 

"Yang lain belum datang ya ?!" dialeg Jawa kental Widodo membelah dingin ruangan. Kemudian, kami serentak menjawab.

Dua temanku itu kemudian masing masing menyodorkan sebuah buku untuk ditandatangani. Dalam sesi sebelumya, Widodo jadi pembicara memaparkan materi kode etik jurnalistik. Ia membagikan tiga buah buku pada peserta yang aktif bertanya. Dua diantaranya satu meja bersama ku. 

Saat dia menandarangani bukunya, aku hanya menonton. Tak ku sangka, dia mengeluarkan sebuah buku lagi dari dalam tasnya kemudian dia bubuhkan tanda tangan dilembar pertamanya.

Datang tepat waktu diantara peserta lain saat uji kompetensi berlangsung, beliau hadiahkan saya buku yang ia tulis sendiri.

 "Jadi wartawan itu harus on time. Kamu masih muda harus disiplin" pujinya pagi itu sembari menyerahkan cenderamata buku untuk saya. 



- - - - 

Selama puluhan tahun mengabdikan diri di dunia jurnalistik membuat ia harus kehilangan (ginjal) salah satu organ dalam tubuhnya. Pun begitu, ia mengaku tak kapok.

Sekarang aktivitas beliau banyak disibukkan berkeliling Indonesia untuk menguji kompetensi pelaku kuli tinta. Manis sekali.

Ujian ini memang membuat tegang otak kami walaupun materi yang diujikan seputar pekerjaan sehari hari. Diantara jeda waktu rehat aku berusaha menggali sedikit cerita pria yang dua hari ini menguji ku. Tapi bukan soal ujian, melainkan tentang judul “Hidup Dengan Satu Ginjal” – perjalanan seorang wartawan ( buku yang ia tulis ).

Aktifitas pekerjaan yang padat selama aktif bertugas sebagai wartawan dilapangan membuat ia mengabaikan harta yang paling berharga dalam hidup yakni kesehatan. Apalagi semenjak ditugaskan jabatan sebagai redaktur yang memegang halaman satu di surat kabarnya.

Satu sisi kerja dibidang jurnalistik menempa wartawan “sejati” untuk berkomitmen penuh dan bersiaga menjalani profesi selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam sepekan. Disisi lain, kerja jurnalistik yang penuh tekanan dan dikejar waktu terkat dengan tenggat (deadline) menerpa wartawan profesioal untuk bekerja cepat, tepat dan akurat.

Widodo memang hidup dijaman wartawan Indonesia belum mengenal computer dan teknologi digital seperti sekarang ini. Karya tulisnya yang berkualitas membuat namanya kian dikenal pembaca. Demikian, dia ikhlas saja bekerja. Mengalir begitu saja.

Singkat cerita, setelah melewati pemeriksaan medis yang panjang beliau akhirnya merelakan satu organ tubuhnya diangkat dan hidup dengan satu ginjal sejak Agustus 2004.

“Bekerja menjadi wartawan, jangan lupakan kesehatan,” pesan singkat dari pelaku jurnalistik senior. Buku itu dia tandatangani.

“Untuk kamu, Perdana Ramadhan, semoga bermanfaat” katanya.-


Sabtu, 02 September 2017

Menakar Calon Penantang Ketua Aklamasi di Konferensi PWI Asahan

Agaknya, saat ini tetua di PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tingkat Kabupaten Asahan sedang ber - public opinion jelang pesta perhelatan demokrasi pucuk pimpinan organisasi wartawan tertua di Indonesia di tingkat kabupaten Rambate Rata Raya yang rencananya bakal dihelat tangal 9 September 2017 mendatang.

Bagaimana tidak, jelang konferensi  PWI Asahan yang di nahkodai oleh Awaluddin selama dua periode itu seakan “kepayahan”  untuk mecari pengganti sosok pucuk pimpinannya. Rumor beredar, hanya ada nama Indra Sikoembang yang paling siap mengisi formulir berkas pencalonan ketua.  Bah ! Jika seperti ini musyawarah pemilihan ketua terancam aklamasi. 


Tentu saja, yang paling dibuat - ‘gerah’ jelang konferensi adalah Nurkarim Nehe. Dalam level kaderisasi ditubuh organisasi kewartawanan itu di Asahan bahkan sampai level  Sumatera Utara, Nehe boleh dibilang paling punya gengsi. Wajar saja, dia pernah mengecap sebagai ketua dua periode dimasanya.
Kegusaran  Nehe tak bisa dia sembunyikan.  Hal itu ditunjukkannya dalam salah satu postingan komentar di group watshap  himpunan wartawan yang memiliki anggota puluhan orang baik media cetak, maupun elektronik di Kabupaten Asahan.

“Jadi … jika Indra Sikoembang calon tunggal, pertama : merubah tradisi yang ada. Kedua: mematikan dinamika padahal ini organisasi profesi yang mengutamakan skill dan profesionalisme*,” tulis wartawan berkompetensi tingkat  utama ini. | *watshap group D.K  |1/9/17| 07:26 am.

Nehe paham betul, dalam kerangka organisasi profesi sekaliber PWI tentu dinamika haruslah diciptakan bukan ditunggu apalagi momentumnya adalah Konferensi.  Maklum saja, Waka (sebutan lain Nehe) selain termasuk tokoh senior dalam segala line up, dia boleh dikatakan kenyang untuk urusan organisasi, termasuk selain memimpin PWI Asahan dua periode dan kini aktif memimpin KONI Asahan dua periode pula.

Dalam tulisan obrolan masih dalam pesan watshapnya Nehe turut menyampaikan bahwa awak Waspada hanya akan menjadi peserta suksesi dan mendukung para calon ketua dengan memberikan suara secara baik, ikhlas bahkan tanpa imbalan jabatan sekalipun. Artinya, lima anggota PWI Asahan dari group Waspada hampir dipastikan tak bakal melenggang ke bursa calon ketua. Keputusan ini mereka sebut dengan “Pertimbangan Santun Waspada”.

Mempelajari konferensi terdahulu saat terpilihnya Awaluddin di periode pertama Awal terpilih  dengan vote 7 – 2, lima tahun berikutnya dalam agenda yang sama wartawan Analisa ini  kembali memimpin, setelah menang aklamasi dengan status petahana. Perjalanan Awaluddin sama seperti seniornya Nurkarim Nehe saat didaulat menjadi ketua PWI Asahan dua periode berturut turut.

Nama Indra Sikoembang (sekretaris) wartawan Medan Bisnis,  sebagai juru masaknya dia PWI Asahan selama dua dekade berturut turut  mendampingi Awaluddin sebagai ketua. Agaknya, Indra sedang diatas angin. Dia terancam menang aklamasi. Tapi tunggu dulu, konstalasi jelang konferensi bisa saja berubah.

Nama Heru Sihotang salah satunya yang dijargonkan menantang Indra.  Anak dari  almarhum Herman Sihotang yang juga merupakan salah satu tokoh wartawan lawas di Asahan ini “kadung” digadang gadangkan rekannya untuk bertarung meski mayoritas pendukungnya berasal dari luar anggota PWI.

Sejak remaja, Heru akrab didunia jurnalistik tak heran eksistensi dan konsistensi yang dimiliki membuat namanya cukup dikenal khalayak. Terkait rencana pencalonan namanya di bursa calon ketua PWI Asahan sebenarnya dia tak ingin sesumbar.  Beberapa media cyber di Asahan mengaku telah mendukung penuh rencana pencalonan untuknya meski tak terlibat aktif langsung dalam konferensi.

Sebagai organisasi profesi  PWI milik publik walau terkesan sedikit ekslusive sebab tak mudah masuk menjamah kedalam meski seprofesi wartawan sesuai peraturan dan ketentuan dewan pers.  

Konferensi adalah proses musyawarah tertinggi yang diatur setiap bidak langkahnya. Sejatinya, memang tak pernah ada yang mengharamkan kemenangan merebut pucuk pimpinan secara aklamasi.

Selamat bermusyawarah !
// Perdana Ramadhan. /BENS
** Penulis adalah simpatisan dan bukan anggota PWI Asahan.

Senin, 17 Juli 2017

HBD 2 U –nya ‘Bunda’


Sebenarnya dua hari  lalu (15/7/2017) dalam tradisi orang kebanyakan dibelahan bumi ini, istriku merayakan ulang tahunnya yang ke 25. Sialnya aku (suaminya) bukanlah tipe lekaki romantis kebanyakan, yang tepat pada pukul 00:01 WIB memberikan kado sepesial atau matikan lampu memberi kejutan kue tart dengan lilin angka dua lima diatasnya.

But, … tidak, tidak ! Itu sama sekali tak pernah ku lakukan. Bahkan sejak kami 2 tahun lebih lamanya hidup bersama dalam usia pernikahan. Akhh…  barangkali aku memang lelaki payah … Istriku tahu betul itu !

Tak ada potongan kue atau bahkan kado special untuknya. Aktifitasnya kami masih sama, seharian dia mengurus dua buah hati kami di dalam rumah. Sementara aku beraktifitas di dunia tulis jalanan. Selepas magrib, kami hanya tiduran santai sambil mengobrol khayal dipinggir ranjang, menjaga anak anak yang baru terlelap. 

Sebab kami percaya, kalaulah ulang tahun identik dengan “special day”maka bagi kami setiap hari adalah hari yang istimewa. Jika ulang tahun dihubung hubungkan dengan pemberian sesuatu (kado), maka aku atau istri bisa memberikan kejutan kado apa saja kapanpun kami mau.

Jika ulang tahun itu makan makan, itu juga hampir tiap akhir pekan kami lakukan, makan di restoran / cafĂ© favorite kami. Sebisa mungkin dalam situasi apapun kami berusaha tetap “romantic”. Setiap hari setiap akhir pekan kami berulang tahun.

Finally, bhrithday’s story … done !

Sekitar tiga puluh hari yang lalu, istri saya baru saja melahirkan akan kami yang kedua dengan cara operasi cesar. Ini tentusaja bukan hal yang gampang untuk kami lewati, terutama bagi istri saya. Sebab  jarak antara Shafiyah (putri kami yang pertama) dengan Dhuha (adiknya) memang cukup dekat hanya satu tahun tiga bulan.

Kami akui memang, awal mula kabar kehamilan ini dirasa membuat kami sedikit cemas mengingat resiko kehamilan dengan jarak yang singkat. Alhamdulillah proses tersebut telah kami jalani. Keduanya kini dalam kondisi sehat. 



Mengasuh dua anak sekaligus tentu saja membutuhkan pengawasan dan kerja yang dua kali lipat capeknya. Dibantu kakek dan neneknya (Shafiyah – Dhuha),  sekarang keduanya tumbuh. Istri saya saat ini sedang dalam masa cuti dari pekerjaannya jadi dapat maksimal mengurus keduanya.

Kembali ke istri saya. - Dia itu (fighter moms). Walau sebutan ini bisa saja menjadi penilaian orang sebagai ungkapan “air laut asin sendiri” terserahlah !

Dalam episode lalu ditulisan dibloog ini, saya juga pernah bercerita soal ‘bandel’ nya istri saya itu terutama urusan pekerjaan. Bagaimana tidak, dua kali proses kehamilan anak kami, tanpa terganggu dia  masih (bekerja) melakukan perjalanan dengan sepedamotor Kisaran – Simpang Empat. Jarak yang cukup jauh untuk wanita yang berjuang membantu suaminya mencari nafkah untuk keluarga.  Begitu juga kesiapsiagaannya dalam menjaga Dhuha – Shafiyah siang malam.

Tentu saja dibalik wajah lelah dalam lelap tidurnya tiap malam, ada rapalan doa acap terhaturkan untuk kesehatannya beserta dua anak kami setiap saat. Itu saja dulu. Keberkahan usia, bahagia, masuk surga dan kaya raya jadi urutan doa selanjutnya.
  
Sudahlah, saya tak mampu merayu atau menuang lirik romantic dalam bait tulisan   

Selasa, 18 July 2017 | 00:14 AM |

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best CD Rates