blog edit

Jumat, 08 Mei 2015

Tuk “Ketua”

“Apa Kabar Ketua?!” banyak yang incar dan inginkan posisimu agar menjadimu ketua. Owh ketua?! Kami tau mahalnya menjadi ketua, karenanya banyak yang berfikir untuk menjadi itu  cost politik-nya mahal, maka wajar dan pantas ketua dapatkan apresiasi yang mahal juga.

Tulisan ini ketua, tak sebanding dengan cost yang ketua keluarkan untuk menjadi ketua. Anggaplah ini sebuah aplaus dan tanda selamat kami untuk ketua, karena kami tau hal yang pertama ketua lakukan setelah ketua menjadi ketua adalah “tepok jidat” karena sedemikian tak murah menjadi ketua itu, baik calon yang terpilih menjadi ketua ataupun yang kalah menjadi ketua sama sama “koyak kocek”. Pun demikian katuoo... ?? pakek dulu okok atang katuo?!  ** lagak guyonan ala pesisir kami menyambut katua ...

Tepat sepekan yang lalu, (1-3 Mei 2015) pesta demokrasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumatera Utara berakhir, perhelatan musyawarahdaerah  (Musyda) yang bertempat di dua kota Sibolga – Tapanuli Tengah sukses digelar. Sistim musyawarah organisasi yang berlambangkan perisai dengan identik warna merah darah ini para perumusan pemilihan ketuanya disusun dengan rumus formatur. Termasuk saya sendiri, ada tiga puluh tujuh nama formatur bertarung memperebutkan posisi tiga belas teratas. Dari tiga belas nama terpilih, selanjutnya memusyawarahkan satu nama yang bakal diangkat menjadi ketua. Diantara susunan line up formatur ada beberapa kandidat nama berambisi dengan vis dan misi terbaiknya membangun ikatan ini agar lebih baik lagi kedepannya.

Mengutip sambutan Immawan Qahfi Romula Siregar, mantan ketua umum DPD IMM Sumut demisioner  PA 2013-2015 mengatakan, tak mudah memimpin organisasi besar mahasiswa sekata IMM di tingkatan provinsi. Karenanya butuh kerjasama dan komunikasi yang baik antar pengurus, sebab hanya orang orang terpilih yang punya keseriusan total untuk mengurus ikatan ini sehingga tujuan IMM bisa dijalankan. Demikian Qahfi tak menampik adanya beberapa komunikasi yang sempat tersendat antar pengurus, hingga organisasi yang dipimpinnya selama dua tahun ini berdinamika hebat, namun itu hal yang biasa dalam sebuah perjalanan organisasi.

Sepanjang perjalananku selama beroganisasi, satu satunya kesempatan diamanahkan menjadi ketua ketika masih berkuliah dulu di Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK) Royal diamanahkan sebagai ketua di Badan Eksekutif Mahasiswa (AMIK) tahun 2010-2011. Merefleksi kembali meraih simpati dari ribuan mahasiswa tersebut didapat dengan cost yang tidak murah juga, menang dengan selisih hanya empat suara saja, perjalanan memimpin menjadi ketua di level kampus dijalani dengan dinamika yang luar biasa. Setelah itu, selanjutnya dalam karir organisasi lebih banyak memegang posisi dibelakang layar “behind the gun” posisi sekretaris lebih akrab melekat sampai beberapa kali di organisasi yang berbeda hingga terkahir di pimpinan cabang IMM Asahan – Batubara.

Apa kabar ketua?! Ketua terpilih kami sekarang. Proses demokrasi yang dibungkus dalam musyawarah telah selesai, hasil telah diketahui. Garis tangan ketua menjadikan ketua sebagai ketua kami sekarang. Selamat kepada ketua kami Immawan Budi Setiawan Siregar track record perjalanan ketua sebelumnya sebagai “behind the gun”-nya DPD IMM Sumut sekretaris umum diperiode yang lalu menjadi pengharapan baru bagi kami. Kami tunggu kemana kapal akan ketua bawa berlayar. 

Ketahuilah ketua, harapan tertumpu banyak ketua, semoga dari keinginan ketua menjadi ketua dapat menerjemahkan keinginan kader ikatan ini dalam tujuan dimasa kepengurusan kedepan yang lebih baik. Sekali lagi, selamat ketua !! dan  ...
katuooo??!! Pakek dulu okok atang?! ...”  :)

Penulis :  Perdana Bens  Ramadhan

(Sekretaris PC IMM Asahan- Batubara PA. 2014-2015 | Pimpinan Redaksi media online www.derapindependent.com | wartawan Harian Batak Pos Wilayah Asahan, | Redaktur Surat Kabar Asahan Pos)

Kamis, 19 Maret 2015

Mengintervensi [Tuhan]

Seperti katanya, "Berdoa itu seperti mengkayuh sepeda. Berulang-ulang dilakukan setiap saat, secara perlahan terus menerus dan pasti akan sampai tujuan,".
Seberapa jauh jarak tempuh yang dituju maka maka semakin jauh dan sering pula kita akan mengkayuh begitupula sebaliknya.

Teruntuk mu wanita yang kerap melekatkan keningnya diatas sajadah berpeluk harap diantara diamnya malam menjelang pagi datang. Rasanya siapapun akan sepakat, bahwa tak ada sajak yang lebih puistis dari sajak manapun selain mengilustrasikan wanita yang berpeluh harap saat pagi dini hari dalam doa. Seperti katanya, berdoa itu ibarat mengkayuh sepeda dilakukan berulang ulang...

Siapapun sepakat, berdoa adalah media intervensi halus manusia kepada Tuhan untuk mengikis secara perlahan rasa khawatir, takut, was was atas permasalahan yang kita hadapi merubah dan menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang sulit menjadi mudah, yang mustahil menjadi ada, yang takut menjadi berani, yang terang menjadi gelap. Seperti katanya, berdoa itu ibarat mengkayuh sepeda, harus dilakukan sesering mungkin. 


"... dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu Ya Tuhan ku." (QS: Maryam 4)

Semakin besar harap yang digantungkan, semakin jauh pula kayuhan yang akan dilakukan secara terus menerus dan berulang ulang. Aku sendiri mulai kecanduan, kutipan dalam surat Maryam: 4 menjadi refleksi bagi diri. Jika tak pernah berharap mengkayuh dalam doa, maka tak akan sampai pada tujuan. Seperti katanya, berdoa itu seperti mengkayuh sepeda, harus dilakukan berulang-ulang.

Teruntuk mu wanita yang kerap melekatkan keningnya dalam sajadah berpeluh doa. Semoga doa doa kita yang diilustrasikan dalam kayuhan sepeda tetap dilakukan secara terus menerus, bersamaan dan berulang ulang. Walau sebenarnya kita tak ingin tahu dan sepakat kalau sekalipun kayuhan ini tak akan pernah berhenti sekalipun dia mencapai tempat tujuannya.

#KolongLangit

Senin, 16 Maret 2015

Heboh Hoax si #KakekSarung

Oleh @Perdana_Bens *




Cerita heboh tentang #KakekSarung yang hari ini tak satu orang pun tahu bagaimana kronologis pastinya berkembang luas, khususnya bagi masyarakat di sekitar Kota Medan dan Binjai. Tak jelas siapa yang memulai mengkisahkan cerita ini hingga meneruskannya ke pesan singkat broadcast bbm , mulut ke mulut dan bikin geger se Sumut pada bulan Maret 2015 ini.

Di Jakarta sempat tenar nenek gayung pada tahun 2012, bisa jadi cerita Kakek sarung ini melanjutkan perjalanan mistis yang tak satu orangpun dapat menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya. Ketenaran nenek gayung pun melejit dengan diluncurkannya film di bioskop-bioskop Indonesia, bergenre horor dan kemudian ceritanya padam dengan sendiri ditengah tengah masyarakat tanpa ending yang jelas.

Dikutip dari sebuah pesan bbm, alkisah rumor #KakekSarung ini bermula dari seorang kakek yang berkeliling jualan sarung di Kota Medan – Binjai dengan harga yang murah. Si Kakek ini menjual sarungnya dengan harga lima ribu sampai sepuluh ribu saja, namun jika ada yang berani menolak barang yang ia jual maka si kakek akan menangis dan meronta hingga membuat orang iba untuk membeli sarungnya.

Konon sarung tersebut adalah kain kafan, dan bagi siapa saja yang membelinya akan mendapat kesialan dan bakal meninggal. Rumor beredar kain tersebut memiliki kekuatan mistis, digunakan sebagai alat ilmu hitam dan bagi siapa saja yang membeli kain sarung itu akan mati!.

Cerita kakek sarung, diperkuat dengan banyaknya tersiar kabar yang lagi lagi belum jelas kebenarannya masih dari sebuah pesan singkat Broadast di social media, tentang penampakan kakek tersebut di jalanan pasar di sebuah tempat di Kota Medan. Orang orang mempergokinya menjual sarung, karena cerita berkembang si kakek adalah dukun yang menganut ilmu hitam, beramai ramai orang menghakimi kakek yang tak diketahui identitasnya itu hingga tewas.

Begitu cepat masyarakat menerjemahkan rumor tersebut lantas mencurigai kakek kakek atau orang tua yang menjual sarung di pasar, jalanan atau tempat tempat umum lainnya akan dicap sebagai dukun dan dialah si #kakekSarung yang diceritakan itu, selanjutnya cerita tak hanya ramai di dunia maya, anak sekolah ikut serta membahasnya di ruang kelas, ibu ibu mengkajinya di acara arisan, bapak bapak membedahnya di warung kopi, dan … banyak lagi.

Perihal saktinya sarung si kakek itu yang bisa menghilangkan nyawa orang lain hyanya sebatas kita dengar dari mulut ke mulut. Mata masyarakat harus dibuka. Hal hal yang berbau mistis itu kita bisa saja kita yakini adanya namun tidaklah menjadi ajang penghakiman, kepada bapak bapak penjual sarung yang usianya tua.

Bisa saja rumor #KakekSarung ini benar adanya namun ceritanya tidak sampai demikian menghilangkan nyawa orang dan diduga sengaja diciptakan oleh si pembuat hoax* (cerita palsu.red). Sekali lagi masyarakat yang cerdas tidak harus membuat dan membesar besarkan cerita tersebut. Jika cerita #KakekSarung itu benar adanya dan penyebarluasan berita tersebut semakin besar maka si Hoaxder (pembuat cerita hoax) sekarang sudah mati terbahak bahak karena isu yang dibangunnya berhasil.Bagi orang yang cerdas seperti si Hoaxder tadi untuk membuat cerita hoax ditengah pesatnya dunia telekomunikasi informasi sekarang ini tidaklah sulit.

Saya pernah bertemu dengan salah seorang teman yang suka usil membuat cerita Hoax. Membahas cerita Kakek Sarung ini dia meyakini hal tersebut adalah permainan hoaxder. Masih ingat tentang Display Picture (DP) di aplikasi Bl*ckberryMessanger yang sulit diganti. Dengan mengirimkan broad cast (BC) dan semacam kode kombinasi angka dan huruf di BBM maka secara otomatis DP akan terganti. Namun setelah mengirim BC, DP BBM tak juga terganti, sementara pesan tersebut diteruskan dari satu kontak ke kontak yang lainnya dan berkembang luas.

Cerita Kakek sarung tersebut biar saja menjadi konsumsi cerita dogeng sebelum tidur bagi ruang dengar kita, tanpa harus meyakininya . Jangan karena rumor Hoax lantas kita takut untuk membeli sarung, apalagi kita mendapati si penjual sarung itu adalah orang yang sudah tua. Dimulai dari diri sendiri, berfikirlah dengan logika, jangan lantas orang yang menjual sarung sebagai korban dari konsumsi berita hoax yang kita dengar.

**Penulis adalahwartawan di Surat Kabar Harian Batak Pos, Ketua Asossiasi Pers Mahasiswa Indonesia, dan redaktur di salah satu surat kabar Mingguan lokal di Asahan.

Minggu, 17 Agustus 2014

Harus di Tulis !

Ternyata bersyukur itu sederhana. Jika dia dianalogikan dengan terlalu hiperbola mungkin sebanyak hembusan nafas setiap harinya. Sangat sederhana sesederhana bocah kecil yang merengek manja kepada Ibunya untuk meminta dibelikan sesuatu.

Harus di tulis !

Sabtu malam dini hari itu pembicaraan saya bersama seorang teman mengupas jauh apa yang telah kami dapatkan dan apa keinginan yang kami belum capai. Teman saya bercerita dia bekerja seminggu enam hari sehari sampai hampir dua belas jam selama hampir dua tahun anehnya tak pernah merasa berkecukupan.

Saya teringat ketika itu pernah bekerja sebagai staff di Surat Kabar Mingguan (hingga kini) dengan gaji per bulan Rp 350.000 hampir selama satu tahun. Anehnya dengan 350ribu selama itu tak pernah sedikitpun merasa lapar, sakit atau kekurangan dengan apa yang diperoleh. Jika kehabisan uang untuk makan pasti ada saja yang bisa dimakan, jika kemana mana sepeda motor kehabisam bensin ada saja uang untuk beli bensin, kalau hp kehabisan pulsa ada uang buat beli pulsa, tak pernah merasa kurang dengan apa yang dicapai waktu itu selama hampir satu tahun.

Harus di Tulis!

" Punya usaha sampai bermodalkan lebih dari 20juta pernah, jadi karyawan di perusahaan Finance, Marketing Kartu Kredit di Bank Swasta ternama dgn gaji smpai 3jta/ bln prnah, jdi staff di surat kabar mingguan slama hampir 1 tahun dengan gaji 350ribu per bulan juga pernah.
Dari rentetan pekerjaan dengan penghasilan tersebut satu plajaran dri kesemuanya itu belajar menikmati hidup dengn penuh rasa SYUKUR.
Insya Allah ({}) " (Facebook ; https://www.facebook.com/perdanabenyamin) Post 7 Agustus 2014.


Alhamdulillah kehidupan hingga hari ini masih lebih baik dari hari kemarin, merasa menikmati yang didapat dari rasa syukur itu tadi ketimbang harus mengeluh. Ingat dengan salah seorang perkataan teman "Tuhan gak akan memberimu apa yang kau inginkan, tapi dia akan memberimu apa yang kau butuhkan"

Harus di Tulis ! Agar rasa bersyukur itu menjadi penetralisir hal tidak baik yang pasti selalu hadir dalam kehidupan.



Minggu, 13 April 2014

“Dialog ; Nunggu !”


A : Ping !!!
B : Yoi bang, apa kabar bang ?
A : Kabar baek.. cemana ko sehat ?
B: Alhamdulilah bang! Oo yah ku dengar abg dah merit ?
A: Ah, enggak ah..
B : hehe… masik sama yang haritu abang kan?
A : udah enggak lagi dek…
B : Loh kenapa bang ?
A : dah kawin dia sama yang lain dek, gak mau dia nunggu abang
B : hah ? serius .. !!
A : iya, kalah-kalah ditekongan abang …
B : bruakakaka… Ku pikir cuma aku aja yg pernah ngalamin kalah di tekongan bang !
A: wiih… kok ko ketawak in pulak kau!
B : Maa’p bang khilaf awak …
A+B = mengheningkan cipta … ***


Menunggu adalah pekerjaan yang dibutuhkan jutaan atom partikel didalamnya yang selanjutnya dikarbonasikan kedalam hati dan otak hingga akhirnya sadar pekerjaan ini hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki keyakinan.

Ketika seseorang membuat kita menunggu berarti ada sesuatu hal yang lebih penting yang harus diurusnya dibandingkan kita. Karena jika kita memang begitu penting dan amat berharga dia tak akan pernah membuat kita untuk menunggu sedikitpun.
Sekali lagi menunggu itu hanya diperuntukkan untuk orang yang punya keyakinan ekstra, bahkan disaat orang telah pergi dan berganti yang lain dia tetap menunggu. Tergantung dari kaca mata mana kau lihat “menunggu” itu. | 14.04.13|



Gbr: Ilustrasi Menunggu ganteng didepan Macbook |

Rabu, 09 April 2014

Hanifa;

Kini kau tak perlu lagi menunggu Hanifa. Menunggu diantara keraguan dan ketidak pastian dari yang kau pinta itu, padahal kita saling meyakini walau alur pikiranku masih bisa dierorkan dengan teorimu yang tak bisa aku mengerti.

Lebih dari ribuan hari yang lalu aku melihatmu dan sebenarnya tak akan menduga ini akan menjadi sepelik ini. Tapi aku tak bermaksud mengganggu dan membuat kegaduhan ini semakin rumit Hanifa.

Tak ada yang terjadi karena kebetulan. Daun sekalipun tak akan pernah membenci angin yang menjatuhkannya, dia tak pernah berfikir untuk melawan, menerima dan mengikhlaskan semuanya. Ini tentang menerima, memahami dan pengertian yang tulus.



Lebih dari jutaan jam yang kita lewati bersama itu Hanifa, kita sama sama mendapatkan pelajaran atas kesalahan kesalahan yang tak perlu diingat, walau kerap membekas, dan telah sepakat menyimpannya didalam kotak besi yang kita sama sama tak tahu seperti apa kuncinya.

Mimpi itu telah didapatkan dan kini kau tak perlu lagi menunggu Hanifa, sebab akupun tahu dibutuhkan jutaan moulekul hormon yang dikarbonasikan kedalam hati dan pikiranmu hingga membuatmu sabar menunggu. Aku sangat paham menunggu itu membosankan dan hanya dilakukan untuk orang orang yang memiliki keyakinan. Jika orang yang membuatmu menunggu itu berfikir ada hal yang lebih penting hingga mengharuskan dirimu menunggu pasti dia tak akan membuatmu menunggu.

Kini kau tak perlu lagi menunggu Hanifa. Karena kau dapat terlihat mendapat apa yang kuinginkan oleh permohonanmu dari dalam tabir doa. Jika beruntung atas keberuntungan yang direncanakan pasti akan bertemu. Kita tersadar bahwa akal dan perasaan bukanlah rumus mate-matika, dan sesuatu terjadi bukan karena faktor kebetulan. Hanifa mungkin kita selalu akan bertemu, dalam doa.

Kamis, 27 Maret 2014

Nasihat dari Botol Infus

Nadi kanan tanganku masih tertancap sebuah jarum suntik, yang dihilir jarumnya bermuara pada sebuah botol 500ml berisikan cairan medis. Dua hari yang lalu masih membekas dalam ingatku ketika salah seorang perawat memberikan suntikan yang jarumnya masih tertancap kasar ditanganku ini, sebagai penawar rasa nyeri yang melilit didalam perut bagian kanan bawah. Untuk pertama kalinya aku dirawat disalah satu tempat yang semua orang tak ingin tinggal berlama-lama didalamnya, ya ... itulah rumah sakit.

Ini adalah hari ketiga, setelah dua hari sebelumnya puluhan orang datang membesuk dan menyatakan simpatiknya mendukung kesehatan dan kesembuhan atas apa yang kualami. Siang itu dari ruangan inap kelas ekonomi rumah sakit tempat aku beristirahat memang panas, kuangkat botol infus dari gagang gantungannya menuju teras ruangan untuk mendapatkan udara segar.

Jarum infus ini masih jadi penghalang ruang gerakku, mungkin jika tidak ada yang menghalang, dini hari pagi tadi boleh jadi aku kabur sebentar bersama kawan kawan ke acara nonton bareng El Clasico Real Madrid vs Barcelona (24/3), usai nonton paginya aku bergegas balik kembali lagi kerumah sakit. Tapi untungnya itu tak ku lakukan karena masih digorgol oleh jarum infus.

Bersana adikku Fitri Sari.(Foto)

Siang ini aku ditemani oleh dua keluargaku, ibu dan kakak sepupuku. Keduanya asik bercerita, dan aku duduk ditengah-tengah mereka menyimak cerita-ceritanya dengan sabar. Mereka sadar aku telah jenuh berada di rumah sakit ini, itu sebabnya keduanya sengaja bergosip ditengah-tengah suntukku agar aku tak bosan, meski aku juga tersadar kondisiku tidak begitu baik. Dari keduanya yang mengapitku, aku lebih banyak menjadi pendengar budiman, dan sesekali menimpali ikut nimbrung bercerita.
Dari gosip mereka yang membuat aku kagum, aku banyak mengambil pelajaran tentang KESETIAAN.

Dimulai dari Ibuk ku yang selama bertahun merawat suamiya yang sakit (alhamdulilah sekarang sudah sehat) secara sabar ia merawat suaminya selama berbulan bulan lamanya dirumah sakit maupun dirumah, kondisi yang membuatnya untuk tidak bisa memilih dan membuatnya berserah diri kepada Sang Pencipta, karena selain harus menunjukkan kesetiaan dan bukti cinta kepada suami dan keluarga ia juga harus berfikir bagaimana caranya untuk tetap bisa mendapatkan uang demi keperluan perobatan sang suami, kebutuhan keluarga, dan dan biaya sekolah anak anaknya. Selama itu juga dirinya menjadi kepala dan ibu rumah tangga dalam waktu yang bersamaan, mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan suaminya tanpa canggung demi kelangsungan hidup suami dan keluarganya.
Makanya ketika mengetahui dirawat dirumah sakit beliau (ibuk.red) dengan sigap menjaga dan mempersiapkan apa yang menjadi kebutuhanku, secara langsung menggantikan peranan orang tuaku yang tidak memungkinkan datang dari Jakarta untuk menjenguk ku pada saat itu.


Lain lagi halnya dengan kakak sepupuku, selama lebih dari sepuluh tahun harus terpisah jauh antar negara dari suaminya, setelah usaha yang dirintis suaminya bangkrut. Ia harus sabar untuk menghidupi lima anaknya dengan mengandalkan kiriman dari suaminya. Dalam dua tahun sekali belum tentu ia menjumpai suaminya. Pada saat kondisi yang tak tahu kapan akan berakhir ini, ia hanya bisa mensyukuri apa yang telah diterimanya, baginya selama anak – anaknya masih bisa melanjutkan sekolah dan masih bisa makan, itu merupakan suatu hal yang luar biasa untuk patut disyukuri. Meski sang suami harus berjuang sendiri dari jarak ribuan kilometer dari anak isterinya. Kesetiaan diantara keduanya membuat aku salut.

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya, ia mendapat pahala kebajikan yang diusahakannya dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang dilakukannya…( Al-Baqarah: 286)


Dari kamar inap rumah sakit aku belajar banyak hal betapa kesehatan itu patut dijaga dan disyukuri, dan dengan sakit yang diberikan itu bisa dijadikan refleksi untuk kita untuk belajar menghargai nikmat yang diberikan Nya setiap hari.

** Tulisan ini didedikasikan untuk kedua orang tua tercinta yang selalu mendoakan untuk kesembuhan ku, kepada adikku, seluruh keluarga besar, alumni dan kader PC IMM Asahan, rekan-rekan se profesi, kak Sary Lubis, dan semua teman / keluarga.